Jodoh adalah gambaran diri!
Aku ingin sedikit bercerita tentang kisah yang aku alami sendiri. tentang bagaimana jodoh adalah gambaran diri sendiri.
Aku pernah bertemu dengan seorang wanita seingatku ditahun 2016, itu pertama kalinya aku bertemu langsung denganya dan mungkin juga yg terakhir. Aku ingat saat itu masih moment sehabis Idul Fitri, pertemuanku dan dirinya tidak disengaja terjadi sehabis diriku bertamu kerumah sahabatku, setelah itu sahabatku ini mengajaku bergabung untuk bersilahturahmi dengan komunitasnya.
Di moment inilah aku bertemu denganya, saat pertemuan pertama itu dirinya sangat menarik perhatianku ada hal yang berbeda yang aku lihat dari dirinya yang belum pernah aku temui di wanita manapun sampai saat ini (pria manapun pasti akan setuju dengaku jika melihat dirinya).
Sebut saja dia Ina (bukan nama sebenernya) sosok wanita yang bergamis panjang, bersuara sopan, bertata krama baik, sayang kepada orangtuanya, dan cukup banyak lagi hal baik yang aku tangkap darinya dipertemuan itu.
Ina cukup aktif dikegiatan komunitasnya, seperti gerakan sedekah seribu sehari dan juga membantu orang-orang untuk dapat mengaji, disamping dia juga menyelesaikan kuliah apotekernya dipulau jawa. Kalau aku gambarkan dia adalah sosok istri yang akan lebih bahagia jika dibangunkan untuk shalat malam bersama dibanding diberikan sebuah kemewahan.
Setelah pertemuan pertamaku itu denganya aku hanya menyimpanya didalam hati saja, karena memang saat itu diriku belum ada niatan untuk serius menjalin hubungan atau kejenjang pernikahan, karena yang aku taupun Ina bukanlah sosok wanita yang menjalin hubungan melalui pacaran "jika mau temui orangtuaku".
sejauh ini aku baru sadar seharusnya ini adalah kode dari sang pencipta untukku memperbaiki dan menpersiapkan diri jauh lebih baik lagi jika ingin mendapatkan sosok Ina. Setidaknya aku tau Ina juga memiliki sedikit ketertarikan pada diriku.
Bagaimana! Jodoh itu ada gambaran diri sendiri, dari 2016-2019 saat inipun setelah aku lihat pada diriku sendiri tidak terlalu banyak hal yang signifikan berubah dalam proses aku menjadi lebih baik dijenjang waktu tersebut. Ibadahku hanya menjalankan hal yang wajib saja, sunnah yang dianjurkan nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedikit saja yang baru aku kerjakan, mengaji pun hanya disaat bulan Romadhon, hapalan Alquran pun tidak banyak bertambah, Juz Amma belum selesai dihapalkan sampai saat ini. Bagaimana bisa sosok Ina dapat kujadikan Istri jika aku tidak sama baiknya dengan dirinya.
Pernahku mencoba berkomunikasi dengan dirinya, sebenarnya saat itu Ina cukup merespon diriku dan memberikan statement untuku agar memperbaiki diri lebih baik lagi dan banyak belajar tentang agama lagi, jika ingin menjadi imam bagi dirinya. Ina ingin agar sosok suami yang mendamping dirinya benar-benar dapat menjadi sosok Imam yang siap memimpin dikeluarga.
Saat itupun Ina sedang dalam proses menyelesaikan kuliahnya. Tak lama dari itu Ina mengabari diriku bahwa dia juga dalam proses dijodohkan atau ada yang bertemu dengan orangtuanya (aku lupa detailnya seperti apa) Ina memilih mengikuti orangtuanya. Sosok pria itu aku yakin berakhlak lebih baik dariku hingga dapat dipilihkan orangtuanya untuk mendampingi Ina.
Lucunya pernah sewaktu-waktu Ina menghubungi diriku duluan, rasanya sangat senang sekali dipikiranku saat itu apakah Ina batal menikah dengan sosok pria itu! Namun ternyata salah, Ina berniat menjodohkanku dengan temanya, singkat cerita temanya ini ternyata lebih duluan menikah akhirnya.
Diakhir 2018 Ina menyelesaikan kuliahnya dan aku memberikan selamat melalui pesan di Instagramnya (dia bermain instagram tidak pernah sama sekali mengekspose parasnya yang menarik, Ina bermain hanya untuk menshare sesuatu yang berhubungan dengan dakwah).
Diucapan selamat itupun aku sedikit
bertanya kapan undangan pernikahanya (alasan untuk tau apakah dia jadi menikah) jawabanya Insyah Allah di tahun 2019.
14 April 2019 aku mencoba bertanya kembali kepada Ina karena belum yakin apakah dirinya jadi menikah atau tidak. Jawabnya ditunggu saja undanganya ditahun ini sambil mendoakanku mendapat jodoh yang lebih baik darinya. Dari jawaban ini akhirnya aku yakin jika Ina bukanlah bagian dari tulang rusuku. Dia dimiliki oleh pria beruntung disana. Doaku selalu menyertaimu Ina seperti kamu juga mendoakanku.
Kesimpulanya, jika seandainya dari 2016 kemarin aku banyak melakukan perubahan dalam hidupku menjadi lebih baik lagi khususnya untuk keimananku mungkin sang pencipta memberi jalan yang berbeda dan membuka pintu hati Ina seluasnya untuk aku masuki, namun tidak Sang pencipta memberikan sosok lain yang memang pantas untuk mendampingi Ina. Bagaimana semua jelas tergambar di surah "An-Nur ayat 26".
Akhirnya, terima kasih untuk Ina sosok yang menjadikan Khadijah atau Aisyah referensi dalam kehidupanya di era modern seperti ini. Sosok yang tidak termakan oleh gerlapnya dunia ini, Sosok yang menenangkan hati, Sosok yang bertatakrama sopan dan santun. Cukup banyak memberikan banyak pelajaran dalam hidupku
D.A 20/04/19
Komentar
Posting Komentar